Mengharamkan yang Halal dan Menghalalkan yang Haram Sama dengan Syirik

Sesuatu yang sukar apabila kita memberatkan hati untuk menghalalkan hukum yang haram.  Sifat berat hati itu bukan datang dari kecerdikan nya tapi kerana tahap iman nya yang busuk malahan rosak hina.Manusia berlagak seakan-akan rezeki ini milik nya tapi dia lupa bahawa miskin kaya milik Allah bukan tiket yang senang untuk mencapai kekayaan kecuali kesungguhan dan keredoan Allah swt.

Kita kurang cerdik tapi kita berlagak bijak dan pandai dalam mengatur langkah hidup . Saya sering berwasiat kepada sahabat dan rakan-rakan akan keredoan Allah dan percayalah dengan kekuasaan DOA. Doa itu milik orang mukmin dan kata-kata kita sewaktu doa akan di dengari Allah selagi hati dan akal bercantum ikhlas. InsyaAllah.

Sedikit sedih hati kerdil ini apabila ada rakan yang mempermainkan dustur Allah swt. Mereka menggunakan wang untuk kaya sedangkan wang itu datang dari Allah swt dan kekayaan yang di impikan adalah anugerah Allah swt. Jika ia datang percayalah Allah mampu menariknya dalam masa yang paling singkat dan hina. Benar,kita seakan berlebih-lebihan dalam soal duniawi…Suhanallah.

Nabi Muhammad sendiri telah berusaha untuk memberantas perasaan berlebihan ini dengan segala senjata yang mungkin. Di antaranya ialah dengan mencela dan melaknat orang-orang yang suka berlebih-lebihan tersebut, yaitu sebagaimana sabdanya:

“Ingatlah! Mudah-mudahan binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan itu.” (3 kali). (Riwayat Muslim dan lain-lain)

Dan tentang sifat risalahnya itu beliau tegaskan:

“Saya diutus dengan membawa suatu agama yang toleran.” (Riwayat Ahmad)

Percalah akan rezeki itu datang dari Allah swt. Allah swt itu maha kaya

Percalah akan rezeki itu datang dari Allah swt. Allah swt itu maha kaya

Yakni suatu agama yang teguh dalam beraqidah dan tauhid, serta toleran (lapang) dalam hal pekerjaan dan perundang-undangan. Lawan daripada dua sifat ini ialah syirik dan mengharamkan yang halal. Kedua sifat yang akhir ini oleh Rasulullah s.a.w. dalam Hadis Qudsinya dikatakan, firman Allah:

“Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya.” (Riwayat Muslim)

Oleh karena itu, mengharamkan sesuatu yang halal dapat dipersamakan dengan syirik. Dan justeru itu pula al-Quran menentang keras terhadap sikap orang-orang musyrik Arab terhadap sekutu-sekutu dan berhala mereka, dan tentang sikap mereka yang berani mengharamkan atas diri mereka terhadap makanan dan binatang yang baik-baik, padahal Allah tidak mengizinkannya. Diantaranya mereka telah mengharamkan bahirah (unta betina yang sudah melahirkan anak kelima), saibah (unta betina yang dinazarkan untuk berhala), washilah (kambing yang telah beranak tujuh) dan ham (Unta yang sudah membuntingi sepuluh kali; untuk ini dikhususkan buat berhala).

Orang-orang Arab di zaman Jahiliah beranggapan, kalau seekor unta betina beranak sudah lima kali sedang anak yang kelima itu jantan, maka unta tersebut kemudian telinganya dibelah dan tidak boleh dinaiki. Mereka peruntukkan buat berhalanya. Karena itu tidak dipotong, tidak dibebani muatan dan tidak dipakai untuk menarik air. Mereka namakan unta tersebut al-Bahirah yakni unta yang dibelah telinganya.

Dan kalau ada seseorang datang dari bepergian, atau sembuh dari sakit dan sebagainya dia juga memberikan tanda kepada seekor untanya persis seperti apa yang diperbuat terhadap bahirah itu. Unta tersebut mereka namakan saibah.

Kemudian kalau ada seekor kambing melahirkan anak betina, maka anaknya itu untuk yang mempunyai; tetapi kalau anaknya itu jantan, diperuntukkan buat berhalanya. Dan jika melahirkan anak jantan dan betina, maka mereka katakan: Dia telah sampai kepada saudaranya; oleh karena itu yang jantan tidak disembelih karena diperuntukkan buat berhalanya. Kambing seperti ini disebut washilah.

Biar kita miskin tapi mulia di sisi Allah dari kaya tapi hina di sisi Allah swt

Biar kita miskin tapi mulia di sisi Allah dari kaya tapi hina di sisi Allah swt

Dan jika seekor binatang telah membuntingi anak-anaknya, maka mereka katakan: Dia sudah dapat melindungi punggungnya. Yakni binatang tersebut tidak dinaiki, tidak dibebani muatan dan sebagainya. Binatang seperti ini disebut al-Haami.

Penafsiran dan penjelasan terhadap keempat macam binatang ini banyak sekali, juga berkisar dalam masalah tersebut

Al-Quran bersikap keras terhadap sikap pengharaman ini, dan tidak menganggap sebagai suatu alasan karena taqlid kepada nenek-moyangnya dalam kesesatan ini. Firman Allah:

“Allah tidak menjadikan (mengharamkan) bahirah, saibah, washilah dan ham, tetapi orang-orang kafirlah yang berbuat dusta atas (nama) Allah, dan kebanyakan mereka itu tidak mau berfikir. Dan apabila dikatakan kepada mereka: Mari kepada apa yang telah diturunkan Allah dan kepada Rasul, maka mereka menjawab: Kami cukup menirukan apa yang kami jumpai pada nenek-nenek moyang kami; apakah (mereka tetap akan mengikutinya) sekalipun nenek-nenek moyangnya itu tidak berpengetahuan sedikitpun dan tidak terpimpin?” (al-Maidah : 103-104)

Dalam surah al-An’am ada semacam munaqasyah (diskusi) mendetail terhadap prasangka mereka yang telah mengharamkan beberapa binatang, seperti: unta, sapi, kambing biri-biri dan kambing kacangan.

Al-Quran membawakan diskusi tersebut dengan suatu gaya bahasa yang cukup dapat mematikan, akan tetapi dapat membangkitkan juga.

Kata al-Quran:

“Ada delapan macam binatang; dari kambing biri-biri ada dua, dan dari kambing kacangan ada dua pula; katakanlah (Muhammad): Apakah kedua-duanya yang jantan itu yang diharamkan, atau kedua-duanya yang betina ataukah semua yang dikandung dalam kandungan yang betina kedua-duanya? (Cobalah) beri penjelasan aku dengan suatu dalil, jika kamu orang-orang yang benar! Begitu juga dari unta ada dua macam,- dan dari sapi ada dua macam juga; katakanlah (Muhammad!) apakah kedua-duanya yang jantan itu yang diharamkan, ataukah kedua-duanya yang betina?” (al-An’am: 143-144)

Di surah al-A’raf pun ada juga munaqasyah tersebut dengan suatu penegasan keingkaran Allah terhadap orang-orang yang suka mengharamkan dengan semaunya sendiri itu; di samping Allah menjelaskan juga beberapa pokok binatang yang diharamkan untuk selamanya. Ayat itu berbunyi sebagai berikut:

“Katakanlah! Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah diberikan kepada hamba-hambaNya dan beberapa rezeki yang baik itu? Katakanlah! Tuhanku hanya mengharamkan hal-hal yang tidak baik yang timbul daripadanya dan apa yang tersembunyi dan dosa dan durhaka yang tidak benar dan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak turunkan keterangan padanya dan kamu mengatakan atas (nama) Allah dengan sesuatu yang kamu tidak mengetahui.” (al-A’raf: 32-33)

Seluruh munaqasyah ini terdapat pada surah-surah Makiyyah yang diturunkan demi mengkukuhkan aqidah dan tauhid serta ketentuan di akhirat kelak. Ini membuktikan, bahwa persoalan tersebut, dalam pandangan al-Quran, bukan termasuk dalam kategori cabang atau bagian, tetapi termasuk masalah-masalah pokok dan kulli.

Di Madinah timbul di kalangan pribadi-pribadi kaum muslimin ada orang-orang yang cenderung untuk berbuat keterlaluan, melebih-lebihkan dan mengharamkan dirinya dalam hal-hal yang baik. Untuk itulah maka Allah menurunkan ayat-ayat muhkamah (hukum) untuk menegakkan mereka dalam batas-batas ketentuan Allah dan mengernbalikan mereka ke jalan yang lempang.

Di antara ayat-ayat itu berbunyi sebagai berikut:

“Hai orang-orang yang beriman: Janganlah kamu mengharamkan yang baik-baik (dari) apa yang Allah telah halalkan buat kamu, dan jangan kamu melewati batas, karena sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang suka melewati batas. Dan makanlah sebagian rezeki yang Allah berikan kepadamu dengan halal dan baik, dan takutlah kamu kepada Allah zat yang kamu beriman dengannya.” (al-Maidah: 87-88)

3 responses to this post.

  1. Posted by shah on March 28, 2010 at 1:00 pm

    Salam wbt,
    Apabila berlaku fitnah tentang sesuatu yg halal dikatakan haram, apa kedudukan hati kita sebagai muslim yang terdengar khabar fitnah itu? Adakah kita perlu syubhah dan meninggalkannya? Atau tetapkan hati kita tentang hukum halal atau haramnya sesuatu?

    Reply

  2. Posted by Reformis on March 31, 2010 at 7:25 am

    wa’salam,

    tidak ada dalam kamus hidup ini yang haram di katakan halal. itu jelas.

    Kedudukan hati wajar membenci dan berusaha untuk kembalikan keadilan dan kekuatan wahyu.

    Uryu’ bukan penyelesaian…
    Kukuatan dalam itu penting.

    Bijak sana dalam mengatur langkah.

    mardotillah

    Reply

  3. Posted by shah on March 31, 2010 at 9:52 am

    Ya memang benar, yang halal itu jelas dan yang haram itu pun jelas. Itu merupakan sabda Nabi saw. Tetapi apa yg saya maksudkan saya ialah sesuatu yang jelas halal secara hak, namun ada pihak yang memfitnah bahawa ianya haram dengan alasan yang direka semata-mata. Ertinya, tidak diyakinkan salah satunya kerana tidak terang halalnya da haramnya kerana disebabkan pertentangan dua dalil. Mungkin bagi yang mendengar fitnah tersebut tidak mengetahui kesahihan khabar fitnah tersebut sama ada benar atau tidak.

    Ini merupakan situasi semasa yang sering berlaku pada zaman ini. Saya mengambil contoh, sesuatu produk makanan yang diiktiraf halal, namun ada pihak yang mengatakan bahawa produk makanan tersebut haram kerana mungkin bercampur dengan benda yang haram. Jadi, apakah tindakan kita? Perlukah kita mengikuti jalan ihtiyad dengan meninggalkannya atau ada tindakan yang lebih baik boleh dilaksanakan? Dan juga apa kedudukan hati kita yang terbaik?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: